Kamis, 31 Januari 2013

Belajar Sholat Adik -Adik As Syifa


Sholat Yuk….!! Jangan Mau Kalah Sama Anak Kecil ^-^

Kutulis pada Selasa, 6 Maret 2012

Di Tpa As-Syifa  tercinta, terlihat anak-anak berantusias untuk melaksanakan praktek sholat. Meskipun hujan, mereka tetap berangkat membawa sebuah semangat untuk mengaji. Hari Selasa adalah jadwal Praktek  Sholat. Kegiatan ini adalah kali keduanya adek-adek As-Syifa belajar sholat saat TPA. Sebelumnya pernah dilakukan saat latihan sebelum lomba LOKANANTA JN UKMI UNS 2010 yang lalu.
Sebelum melaksanakan Praktek sholat merekapun sudah menyiapkan peralatan sholat  dari rumah mereka masing-masing karena pengumuman membawa peralatan sholat sudah diumumkan hari Minggu 4 Maret 2012. Saat mereka melangkahkan kaki masuk ke ruangan TPA, satu per satu anakpun memamerkan apa yang mereka bawa, khususnya anak perempuannya.
“Beatrix kamu bawa apa?” tanya Izza dengan wajah penasarannya.
“Ini mukenah dari eyangku,”jawab  si Beatrix.
Karena teman-teman yang lain juga penasaran, maka mukenah pink yang dimasukkan ke dalam tas yang berbalut bordiran masjid yang menarik dengan selera anak-anak diperlihatkan ke teman-temannya di atas bangku panjang yang terletak di barisan paling depan.
“O…iya ya…”,ucap mereka bersamaan.
Sikap kekanak-kanakkan mereka itulah yang memberikan warna di As-Syifa. Hanya senyum yang bisa ku berikan anak-anak saat mereka bergerombol di bangku depan. Dalam hatiku berkata :“ Dhe, tingkah kalian saat ini mengingatkan aku saat kecil dulu”.
Waktupun kian sore, akhirnya pukul 16.35 mengajipun dibuka dengan kata sapaan seperti biasa.
“Santri….”, sapaanku kepada adek-adek.
“Labbaik ustadzah…”, jawab adek-adek dengan  serempak.
“Apa kabar santri?”
“Alhamdulillah…Luar Biasa…Allohu Akbar…”,
“Sebelum memulai ngaji pada sore hari ini, kita berdoa terlebih dahulu!”
Merekapun berdoa  dan dilanjutkan hafalan doa dan surat –surat pendek untuk memulai materi. Setelah mereka selesai menghafal, saatnya materi sholatpun di sampaikan. Mulai dari niat sampai salam. Sebelum mereka praktek, ade-adepun diingatkan untuk adab wudhu  sebelum melakukan sholat. Untuk menghafal urutan-urutan pelaksanaan wudhu, merekapun diperkenalkan metode “Tepuk Wudhu”, ternyata metode itu berhasil  mempermudah mereka untuk bisa  mengingat-ingat urutan dalam pelaksanaan wudhu.
Setelah adab wudhu selesai, ade-ade diarahkan untuk masuk ke area sholat. Berbagai macam tingkah mereka terlihat,adek-adek  perempuan sibuk memasang mukena dan ade-ade laki-lakipun tidak sabaran untuk menunggu. Akhirnya pemilihan imam sholatpun dilaksanakan, walaupun sempat tidak mau, tapi akhirnya Dhe Sultanlah yang menjadi imam sholat sore itu. Sholat yang mereka laksanakan adalah “Sholat Isya”.Pelafadzan dalam sholat dibunyikan keras agar bisa menilai  bacaan yang benar dan salahnya, serta mengarahkan gerakan-gerakan dan sikap – sikap di dalam sholat mereka agar terlihat dan jika ada yang salah, bisa diperbaiki.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan 17.35, merekapun selesai melakukan praktek sholat yang diakhiri dengan doa setelah sholat (doa untuk orang tua dan doa selamat dunia akhirat). Alhamdulillah…
Tidak berhenti sampai di situ, adek-adekpun berkumpul kembali di area ngaji untuk doa Penutup dan Kifaratul Majlis. Mengaji di tutup dengan Hamdalah dan salam penutup.

Tawa, canda, ceria, kita lewati  bersama
Wajahmu yang tenang isyarat hati putih tak bernoda
Sayangku, adik kecilku..
Pesanku sebagai kakak..
Jangan kau lupa akan agama,
Walau di manapun dan kapanpun kau berada
Jadikanlah Agama sebagai pedoman hidupmu
 Adik kecilku,
Tumbuhlah dewasa di dalam cinta kasihNya selamanya…

***my beloved childrens : Irfan, Ilham, Sulthan, Aryo, Akhsan, Arkan, Albab, Bayu, Gema, Dhia, Hamam, Gading, Ervan, Arina, Mita, Naya, Fyra, Dila, Izza, Beatrix, Ganesha, Nawang, Alya, and all childrens in Bukit Gading Indah (I waiting you to join us in TPA As-Syifa).…





Rabu, 30 Januari 2013

I miss U....My Sister

Special for My Sister
(Mbak Parinah)

Ni bukan fotoku bersama mbak Parinah
Saat lebaran tahun 2013


Dari kecil aku terlahir kembar. Artinyaaaaaaaaaa.....sejak di kandungan ibu, aku sudah ada temannya loch,,hehehe. Teman ngobrol (mang bayi udah bisa ngobrol ya???hehehe), teman berebut makanan di dalam perut ibu, teman bermain (soalnya ibu pernah cerita, saat di kandungan kami itu seringnya tendang2an di dalam perut...uhhmmm kasian juga ya ibu.).Dan saat keluarpun kami bergantian, tidak langsung bareng. Kami pingsut dulu, siapa yang menang nanti yang keluar duluan..hahahaha. Akhirnya yang menang adalah Edah.(gag kog bercanda....tu takdir looch..hehehe). Sampai sekarangpun Edah menjadi kakakku.
Mbak Edah panggilanku untuk dia. Karena sejak kecil ibu senantiasa mengajari kami untuk memanggil orang yang lebih tua itu mbak / mas. Yaaaa....begitulah. My parent is the best. Walaupun orang-orang Jawa mengatakan kalau yang lahir duluan itu adiknya, tapi prinsip keluarga kami tu beda. Tetap za yang lahir duluan itu kakak. Uhmmm....itu gag perlu dijadikan permasalahan, Bapak dan Mama tetap bersyukur anaknya bisa lahir dengan selamat. Hingga akhirnya kita dinamai dengan nama special yaitu "SITI ZUBAEDAH & SITI ZULAEKHAH". Semoga kami menjadi anak yang sholehah, berbakti kepada orang tua dan bisa menebar manfaat di manapun dan kapanpun berada.Aamiin.
Saat kecil aku dan dia kemanapun bersama-sama, bajunya sama, makanan sama, boneka sama, tas sama, tempat minum sama, pokoknya serba sama. Jika ada satu saja yang berbeda, pasti diantara kami da yang brontak. Tapi seringnya aku yang paling bandel. Suka menkritisi barang-barang kami yang berbeda, sehingga aspirasi tersebut disampaikan ke ortu. Daaaaan....ortupun sampai paham kalau aku itu anak yang paling bandel. Tapi apapun itu,,bandelnya tetap positif loch....Sebenarnya Mbak Edahpun mau ngomong, tapi dia takut..hehehe (peace mbak....^_^).
Dari kecil emang Bapak dan Mama senantiasa sibuk dan jarang ada waktu buat kami. Sehinga kedua kakakku Mbak Eli dan Mbak Titin hidup mandiri. Tapiiiii...tenang za ada mbak Par yang senantiasa menemani dan  membantu kami dalam segala hal. Mba Parinah, nama panjang beliau. Beliau adalah orang yang mengasuh aku dan kembaranku sejak kecil. Tapi ngasuhnya cuma siang, saat ortu sibuk bekerja. Saat sore menjelang maghrib, ortu kan udah pulaang,,jadi diserahkan ke ortu.(emangnya piala bergilir diserahkan...hehehe). Sosok mbak Par adalah orang yang penyabar, menghadapi aku dan kembaranku  serta kedua kakakku  Mbak Eli dan Mbak Titin.
Masa kecil kami sangat bahagia, walaupun banyak teman2 kecil kami yang sering pamer cerita tentang jalan-jalan bareng orang tua mereka masing2. Tetapi mbak Par tidak henti-hentinya menasehati kami bahwa Bapak dan Mama bekerja untuk kami juga. Untuk masa depan anak-anaknya dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Gag pernah dibenak kami untuk menyalahkan orang tua. Kami bisa seperti ini juga karna orang tua.
Ketika ku menginjakkan umur 3-4 tahun. Kumulai belajar dengan mbak Par. Karena zaman dahulu belum belum ada Paud. Adanya hanya TK, dan itupun jika umurku sudah menginjak 5 tahun, baru bisa masuk TK.Uhmmmmm.....Mbak Par mengajariku menulis, menggambar,dan berbagai permainan anak-anak beliau juga ajarkan. Walaupun dia hanya lulusan SD, tapi beliau sangat pintar. Yang paling ku ingat dari beliau, Mbak Par selalu menyuruh kami untuk tidur siang. Jika waktu sudah menunjukkan pukul 11.00, Mbak melakukan aksinya seperti Satpol PP untuk  menertibkan alat bermainku dan menyuruh kami untuk bobo ciaaaaaaaaang...... -_-.
Kangeeeeeeeeeeeeen banget Mbak Par....
*Saat  tanggal 26 Mei 1996, usiaku sudah genap 5 tahun. Itu ultah terakhirku bersama Mbak Par. Dulu belum tahu apa itu ultah, dirayain sama gag dirayain itu sama saja menurutku. Tapi entah kenapa ultah tersebut menjadikan suatu yang berbeda. Gag taunya....sekitar bulan Juni, ketika aku dan kembaranku akan mendaftar di sekolah Taman Kanak-Kanak, mbak Par pun pamitan meninggalkan kami.
Sedih...sedih....dan sediiiiiih.........................................
*Hari pertama sekolah masih di antar mbak Par, tapi  saat pulang sekolah Mbak Par udah gag ada. Baju di almarinya udah kosong. Kamar beliau sudah tidak ada barang beliau satupun di dalamnya. Hanya ada kenangan beliau yang tersisa. Saat itu belum tau cara membalas budi beliau seperti apa. Lima tahun bersama beliau adalah waktu yang sedikit bagiku. Kebersamaan kami melebihi hubungan antara anak dan pengasuhnya. Beliau sosok kakak  yang luar biasa.Pengganti orang tua kami saat ortu bekerja.

Terimakasih Mbak Par....
Terakhir kita ketemu saat pernikahanmu 6 tahun yang lalu...
Contact Personmupun aku gag punya.
Sejak ibumu meninggal, aku dah gag tahu kemana bisa ketemu Mbak.
Kangen rasanya.
Nasehatmu dulu, masih teringat dibenakku.
Hingga aku bisa seperti ini.

Ya Alloh berikan kesehatan bagi Mbak Parinah.
Berikan yang terbaik bagi kehidupannya.
Semoga Mbak Parinah senantiasa bahagia dunia dan akhirat.
Aku belum bisa membalas kebaikannya kepada aku dan keluargaku.
Jika Engkau ijinkan, pertemukanlah aku denagn beliau.

Kami,
H.Sidik Arrohman & Keluarga
(Bapak, Mama,Mbak Titin, Mbak Eli, Mbak Edah, Ekha)





Selasa, 29 Januari 2013

My Little Childrens


Kebahagiaanku Bersama Anak-Anak Kecil

Aku merasa anak kecil itu seperti malaikat yang senantiasa menebarkan senyum dimanapun dan kapanpun berada. Mereka tak ada beban masalah yang dihadapi. Hanya makan, manim, tidur, dan jika tidak dituruti kemauannya paling ujung-ujungnya nangiiis...:'(
Entah kenapa ya....teman terbaikku adalah anak-anak kecil, mereka yang senantiasa menemaniku, menghiburku, membuat gemeeeeeeeeees.....o.o
Masuk ke dunia mereka, membuatku merasakan nyamaaaaaaaaaaaan.....Gag peduli apa yang dikatakan teman-teman, bodo amat...yang penting happy..hehehe...^_^
"Kha...kerjaanmu tiap sore mesti ma anak-anak,,,pa gag bosen???" celethuk tmenku.
"Gag kog....qm tahu gag anak-anak itu membuat kita happy truuuss....ketawa mereka, senyum mereka,uhmmmm....pokoknya seneng dech...(niatnya sekalian mo nawarin jd guru TPA)
"Gag ach...aku jga punya adik kecill...rewelnya minta ampuuuuun..satu za repot apalagi banyak..."
Yeaaaah.....gagal jdi sales guru TPA...
Susah juga ya ngajak orang yang berkomitmen untuk mengajar anak-anak apalagi ngajar TPA...kata pak ustadz kan pahalanya gede...uhmmmm....
Waaah......ayooo siapa yang mau daftar ngajar anak-anak....dijamin asyiiik...(ni mo ngblog pa promosi???wealaaaahhh....)
Pokoknya asyik dech bisa masuk  di dunia mereka.....hmmm...
Ni foto-fotoku bersama mereka.....^_^ (narzist dikit ya...)

 Bersama adik-adik Paud Bianglala
(uhmmmm......semua minta dipangku, mana muat pahaku nak...:)

Outbond ceria bersama anak-anak dusbin FKIP
(yeaaaahhh...fotoku gag terlalu terlihat...wkwkwkwk)

Pamer karya ya kak.....Kami bisa buat mading loch....^_^
(mbak Retno, Ersya, Khadijah, Hilmy, Hanif, rachma, Mbak Nur
Sofia, Akuuuuuu...^_^)

Abis pesta siaga narzist dulu ach....
(Aku bersama anak2 SDN3 Kalirejo Kec. Kebumen)

"mbak ekha....bosen nich TPA di mushola terus, sekali-kali di luar."
"Ayuuukkk...siapa takut...pergi ke taman Pahlawan deket jurug ya."
"Asyeeeeeeeek...."
(anak-anak juga harus dimengerti loooooch....^_^)

"Adik-adikku wisuda.......seneng dech..."

"Belajar sambil nonton kisah-kisah Nabi di Laptop......"
(ternyata metode ini pas banget...buat mengajari anak)

Abis lomba, dapat hadiaaaaah...hmmmm

belajar sholat......
(Sholat yang benar ya nak.....)
TPA As Syifa

Seneng bisa menjadi bagian dari dunia mereka....
Bahagianyaaaa........
Ingat!!!!!! tidak ada anak kecil yang MENYEBALKAN, tapi adanya anak kecil yang MEMBELAJARKAN kita untuk senantiasa sabar.
Makasih adik-adikku....
Tetap semangat berjuang raih cita-citamu ya nak...^_^

Senin, 14 Januari 2013

Di penghujung penantian


Di Penghujung Penantian
seorang Ibu

Hari itu…
“ALLAHuakbar.. ALLAHuakbar.. ALLAHuakbar..” gema takbir terdengar di sela-sela dengungan mesin mobil yang berlalu lalang. Saat itu pula bulan baru berganti menjadi syawal, dan sang mentari mas...ih malu-malu menampakkan dirinya. Dua buah mobil mewah berhenti di pekarangan rumah yang cukup tua, di rumah yang sepertinya sudah tak berpenghuni lagi. Dari salah satu mobil itu turun seorang lelaki muda yang terlihat
gagah, dan dari mobil lain keluar seorang perempuan muda yang tampak cantik. Sepi, sunyi, dan penuh kesedihan, itulah suasana yang merasuki hati lelaki muda itu saat ia mengetuk dan mulai masuk ke dalam
rumah tua itu. Perlahan tapi pasti lelaki itu berjalan menuju meja yang berada di sudut ruangan itu dengan
perempuan muda yang mengikuti langkahnya dari belakang. Sesaat sebelumnya dia mengamati dan memperhatikan ruangan yang sudah berdebu dan kumuh itu, dan tiba-tiba matanya terhenti pada sepucuk surat yang tergeletak di atas meja kecil.
Dengan kecemasan dan keraguan yang jelas tergambar dari wajah dan tingkah laku yang di tunjukkan oleh lelaki itu, dia mulai membuka surat itu, lalu membacanya.

Assalamualaikum wr.wb.
Untuk abang dan ade, anak ibu yang sangat ibu rindukan, sangat ibu tunggu-tunggu kedatangannya, dan sangat ibu sayangi. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini anak-anak ibu sudah tumbuh besar. Tapi ibu masih suka mengingat masa kecil kalian, saat kalian masih senang bermain, bermain dokter-dokteran. Sampai-sampai corong air ibu di pakai
juga buat main kalian, ibu jadi tambah rindu kalian kalau ingat saat- saat itu. Ibu juga ingat saat ibu, abang, dan ade sedang bermain bersama di padang rumput nan hijau. Berlarian, bercanda, tertawa riang, Sungguh, hati ibu sangat senang nak, dan pada saat ade terjatuh di padang rumput itu, dan ade menangis karena kesakitan dengan luka di kaki ade, ibu lah yang ngobatin ade. Meski kita tidak bisa ke dokter karena jauh dari tempat tinggal tapi ibu selalu siap menjadi dokter bagi abang dan ade kala sedang sakit. Ibu
ikhlas mengobati kalian, ibu tak pernah meminta balasan dari kalian. Ade pernah membuat hati ibu
terenyuh dangan kata-kata ade. “ibu..ibu.. ade mau belajar yang rajin agar bisa menjadi dokter. Nanti kalau ibu sakit, biar ade yang ngobatin. Boleeh yaa bu..”. Aduuh ibu sangat senang mendengarnya, tapi ibu juga kasian pada ade dan abang karena ibu sudah mendesak kalian untuk belajar dengan keras. Itu ibu lakukan karena ibu takut, ibu sangat takut nasib kalian
seperti ibu yang serba kekurangan ini. Ibu minta maaf yaa nak telah memaksa kalian. Ibu sungguh-sungguh
minta maaf pada kalian. Ibu jugaterkadang tak tega saat melihat ade yang rajin belajar sampai –sampai tak
kenal waktu demi meraih cita-cita ade. Begitu pula dengan abang yang selalu mengeluh dan berputus asa dengan hasil lukisannya sendiri. Abang selalu menghina lukisan abang. Abang selalu berkata kalau lukisan abang itu sangat jelek, tapi ibu selalu berusaha untuk
menghibur abang dengan selalu berkata kalau lukisan abang adalah lukisan terindah yang pernah ibu lihat.
Sehingga abang bertekad untuk menjadi fotografer, dan abang berkata, “ kalau abang sudah jadi fotografer sukses, abang akan selalu memotret keluarga kita, dan akan menggantikan lukisan keluarga kita ini”. Ibu selalu berfikir, akankah mimpi
kalian dapat terwujud? Akankah kalian menjadi orang yang sukses, seperti yang kalian inginkan? Ibu hanya bisa berdoa untuk kalian nak. tapi… tak terasa waktu berjalan begitu cepat, ibu sungguh tak menyangka kalau kalian akan menjadi orang yang sukses. Yaa.. kini kalian sudah menjadi orang yang sukses. Abang kini sudah menjadi fotografer hebat, sampai-sampai abang menjadi sibuk. Padahal ibu selalu menantikkan abang pulang untuk memotret keluarga kita di rumah, tapi nyatanya hanya ada lukisan abang yang terpajang di dinding kamar ibu. Begitu juga dengan ade, ade pun tak pernah pulang, padahal ibu saaaaangat rindu dengan kalian berdua. Karena rindu, ibu selalu mencoba untuk hubungi kalian, tapi semua anak ibu sedang sibuk. Ibu sangat sedih kala itu, tapi ibu selalu coba untuk mengerti. Ibu pun sering di katain orang sperti orang tak waras. Karena setiap waktu kerjaan ibu hanya
menunggu di balik jendela untuk menunggu kedatangan kalian berdua. Abang, ade, taukah kalian? ibu sering
sekali mendengar kalau telepon rumah bordering, tapi ternyata itu hanya imajinasi ibu saja. Mungkin ibu terlalu ridu dengan kalian. abang, ade. Ibu kesepian, ibu ingin berjumpa dengan kalian, atau tidak ibu hanya ingin berbincang-bincang dengan kalian meski hanya lewat telepon. Tapi hingga kini rindu ibu pun tak kunjung terbalas., hingga pada akhirnya ibu terserang penyakit dan itu cukup parah, dan ibu pun semakin tua. Hari-hari ibu hanya di temani oleh pohon yang bergoyang-goyang, dan rasa rindu yang terus menyerang. Akhirnya ibu putuskan untuk menghubungi
abang di kota, tapi abang masih tetap sibuk dengan pekerjaannya. Ibu hanya bisa pasrah, kini anak-anak ibu sudah lupa dengan janjinya dulu. Sampai suatu saat, sakit ibu makin parah, Ibu sudah tidak tahan lagi untuk menahannya. Dan yang ibu ingat saat ibu sakit adalah ade yang sudah berhasil menjadi dokter, tapi saat ibu hubungi ade… taka da balasan dari ade, ibu hanya pasrah, menahan rasa kecewa ibu. Ternyata ade lebih memperdulikan pasian dari pada ibu.

Asstagfirullahaladzim…. Tetes air mata selalu menghiasi setiap sujud ibu. Ibu selalu berdoa agar allah memberikan kesempatan kepada ibu untuk bisa meliahat anak-anak ibu untuk yang terakhiir kalinya. Tapi ibu benar-benar tak sanggup lagi untuk menunggu
kedatangan kalian, dan pada akhirnya ibu putuskan untuk menuis surat ini. Abang, ade. Ibu minta maaf, mungkin lebaran tahun ini ibu tidak bisa menemani kalian berdua. Mungkin saat kalian datang mengunjungi ibu, dan membaca surat ini kalian sudah
tidak akan menemukan ibu lagi. Sekali lagi, ibu sangat minta maaf. Dan boleh.kalian ingat dalam benak kalian, ibu.sayang sekali dengan kalian, dan ibu.akan menunggu kalian di surga abadi, kelak.Wassalamualaikum wr. Wb.
Salam rindu penuh kasih sayanng Ibu
Diam seribu bahasa, itu lah yang di lakukan oleh lelaki itu. Sedangkan perempuan yang di belakangnya sudah menangis hingga tersungkur ke lantai, tak kuasa
menahan kesedihan dan rasa penyesalan yang menusuk hatinya. Tapi kini mereka tidak bisa melakukan apa pun untuk sang ibu , mereka tidak bisa memaksa waktu untuk mengulang kembali masa di mana ibunya masih
hidup. Satu-satunya cara adalah dengan memohon ampun kepada allah dan selalu mengirimkan doa, doa anak salih. “roobighfirlii waliwaa lidayya
warhamhuma kama robbayanii soghiiroo…” ya ALLAH ampunkanlah kesalah ku dan kesalahan kedua orang
tua ku, dan sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku di waktu kecil.
Amiin.