Mahasiswa Sebagai
Penerus Tongkat Estafet Kepemimpinan
Menuju Indonesia Berdaya
Oleh : Siti Zulaekhah
Setiap
orang tidak dapat hidup sendirian karena sejatinya manusia adalah makhluk
sosial yaitu membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Dalam menjalani
hidup, manusia selalu berinteraksi bukan hanya dengan sesamanya tetapi juga
dengan lingkungan. Oleh karena itu, manusia selalu hidup bersama dan
berdampingan membentuk sebuah kelompok, mulai dari yang terkecil yaitu
keluarga.
Sudah pasti tidak mudah menjalani hidup secara berkelompok mengingat
masing-masing individu mempunyai kepentingan dan keinginan yang berbeda.
Terkadang, masalah antarindividu maupun antarkelompok pun tidak dapat
dihindari. Diperlukan jiwa kepemimpinan yang sejati dalam kehidupan ini. Jiwa
yang haus untuk menegakkan keadilan, jiwa yang penuh dengan semangat dan
kecerdasan sehingga mampu mengatasi masalah yang rumit sekalipun.
Pada dasarnya dalam diri setiap manusia memiliki jiwa kepemimpinan karena ini memang
merupakan anugerah dari-Nya. Minimal, seorang manusia harus dapat memimpin
dirinya sendiri. Hendak berbuat apakah dirinya untuk kebaikan dan kualitas
hidupnya. Jika seseorang telah mampu memimpin dirinya ke jalan yang benar,
berarti ia mampu menjadi contoh bagi orang lain. Kepemimpinan yang sejati telah
dicontohkan oleh Nabi Muhammad Sallallahu’alahi wasallam. Pemimpin ala
Rasulullah ialah pemimpin yang mampu memberikan keteladanan yang baik yaitu
mampu memberikan contoh yang baik bagi orang-orang sehingga dapat mencetak
pemimpin-pemimpin hebat selanjutnya.
Mahasiswa, sebuah subjek
intelektual harapan bangsa. ditangan mahasiswa, nasib bangsa Indonesia
bertaruh. sebagai seorang mahasiswa, sudah sewajarnya kita berpikir idealis dan
futuristik untuk nasib bangsa ini. Sudah menjadi suatu keharusan jika seorang
pemuda intelektual belajar ilmu dan arti kepemimpinan. karena pada suatu saat
nanti, kaum intelektual saat ini akan didapuk menjadi pemimpin-pemimpin bangsa,
menggantikan peran pemimpin-pemimpin bangsa saat ini.
Mahasiswa, sebagai subjek intelektual harapan bengsa dapat
diartikan bahwa sudah seharusnya mahasiswa bukan menjadi problematika
pembangunan bengsa Indonesia. Namun, sudah seharusnya menjadi problem
solving dalam
pembangunan bangsa. Membudayakan sikap terbuka, komunikatif, dan kritis dapat
dijadikan pondasi awal untuk memcetak jiwa-jiwa pembangun dan jiwa-jiwa
nasionalis dalam diri mahasiswa. Hal ini secara tidak langsung dapat mengikis
praktek-praktek feodalisme di negeri ini. Organisasi
mahasiswa intern maupun ekstra kampus dapat dijadikan tempat untuk menempa diri
dan menumbuhkan budaya komunikatif dan kritis mahasiswa. Dengan mengadakan
kajian strategis, debat, dan komunikasi banyak arah diharapkan dapat
menumbuhkan jiwa Mahasiswa sebagai subjek pembangunan bangsa. Mahasiswa harus
membuang jauh-jauh eksklusifisme dalam diri mahasiswa. Hal itu
dimaksudkan agar mahasiswa dapat lebih mengerti dan memahami keadaan-keadaan
umat dan bangsa. Aspek kesejahteraan dapat menjadi parameter
kemajuan bengsa. Banyaknya pengangguran warga Indonesia harus segera diatasi
oleh mahasiswa sebagai kaum intelektual harapan bangsa. Ketua Asosiasi
Pengusaha Indonesia ( APINDO ) Sofyan Wanandi menyebutkan terjadinya
pengangguran atau pencari kerja yang semakin tinggi di lingkungan kaum muda,
selain adanya kesalahan paradigma kaum muda, juga akibat dari kuragnya
pembekalan kaum muda dalam memasuki pasar kerja. Hingga saat ini tercatat
kurang lebih terdapat 11,1 juta penganggur dimana 374 ribu diantaranya merupakan
sarjana ( Bob Ferdian: 2010 ). Mahasiswa sudah seharusnya mampu mencetak
lapangan kerja melalui enterpreneurship. Menumbuhkan
sikap idealis dan futuristik dikalangan mahasiswa, merupakan suatu hal yang
sangat penting mengingat pemuda intelektual adalah subjek pembangunan bangsa.
Sikap idealis dapat ditumbuhkembangkan selama mahasiswa mengikuti
kegiatan-kegiatan kampus yang bersifat atraktif, kritis, dan sosial. Keberadaan
organisasi kemahasiswaan diharapkan dapat membentuk kegiatan-kegiatan yang bersifat
atraktif, kritis, dan sosial sehingga mahasiswa merasa perlu menumbuhkembangkan
sikap idealis dan futuristik dikalangan mahasiswa. Serta diharapkan
idealisme mahasiswa tidak luntur seiring berjalannya waktu. Artinya
idealisme serta sikap futuristik mahasiswa tidak berhenti begitu saja setelah
mahasiswa lulus dari perguruan tinggi.
Untuk menjadi negara maju, setidaknya 2 persen penduduk bergerak
dibidang enterpreneurship. Sedangkan penduduk yang bergerak
dibidang enterpreneurshipsaat
ini masih berkisar di angka 0.18 persen. Jikapun tidak, mahasiswa
nantinya diharapkan dapat menjadi pekerja-pekerja profesional yang mampu
meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan yang dipimpinnya, sehingga dapat
membuka lapangan kerja baru untuk kebutuhan peningkatan kinerja perusahaan.
Jiwa kepemimpinan mahasiswa harus ditumbuhkembangkan selama berada
di lingkungan kampus. Regenerasi kepemimpinan harus dilakukan oleh bangsa ini,
mengingat tidaklah mungkin generasi pemimpin bangsa sekarang terus-menerus
mendapuk pilar kepemimipin bangsa ini hingga dua puluh tahun kedepan. Mahasiswa
sebagi kaum intelektual harapan bangsa, sudah seharusnya menjadikan kampus
menjadi tempat belajar dan melatih ketangkasan ( candradimuka ) dalam hal
kepemimpinan. Melalui organisasi intra kampus maupun organisasi ekstra kampus
mahasiswa dapat berlatih hal-hal berkaitan tentang Leadership.
Di zaman modern yang penuh dengan kompetisi ini, sudah sewajarnya
dan seharusnya mahasiswa sebagai kaum intelektual harapan bangsa menghilangkan eksklusifismepada
diri masing-masing. Sebab hal tersebut dapat mengurangi rasa kepekaan mahasiswa
terhadapa nasib kaum dan bangsa ini. Selain itu sikap kritis, terbuka,
futuristik, dan idealis harus ditumbuhkembangkan dikalnangan pemuda inteleltual
sebagai subjek pembangunan. Dengan berorganisasi, sikap-sikap tersebut dapat
ditumbuhkembangkan. Namun bukan berarti berorganisasi merupakan satu-satunya
jalan untuk membentuk sikap-sikap tadi. Namun disini mempunyai arti bahwa
berorganisasi turut andil dalam membentuk sikap-sikap tersebut. Banyak jalan
lain untuk menumbuhkembangkan sikap kritis, terbuka, futuristik, dan idealis
diantara melalui kegiatan keilmiahan, enterpreneurship, maupun membudayakan budaya diskusi.
Diabad yang serba modern ini diaharapkan Mahasiswa sebagai
kaum intelektual subjek pembangunan bangsa dapat melanjutkan tongkat
estafet kepemimpinan saat ini di masa yang akan datang kelak. Agar tercapai
visi dan misi bangsa Indonesia dan menjadikan bangsa Indonesia berdaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar